PENDEKATAN DALAM BELAJAR MENGAJAR

Standard

PENDAHULUAN

Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran. Sebaiknya guru memandang anak didik sebagai individu dengan segala perbedaannya, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran. Ada beberapa pendekatan yang diajukan dalam pembicaraan ini dengan harapan dapat membantu guru dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).

ISI

A. Pendekatan Individual

Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas. Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.

B. Pendekatan Kelompok

Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan perlu digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Disadari anak didik adalah sejenis makhluk homo socius, yaitu makhluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama. Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat di tumbuh kembangkan rasa sosial yang tinggi pda diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial dikelas. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak disadari, mahkluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan mahkluk tertentu.

Ketika guru ingin menggunakan pendekatan kelompok, maka guru harus sudah mempertimbangkan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan tujuan, fasilitas belajar pendukung, metode yang akan dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akan diberikan kepada anak didik memang cocok didekati dengan pendekatan kelompok.

Keakraban kelompok adalah satu-satunya faktor yang menyebabkan kelompok bersatu. Keakraban kelompok ditentukan oleh beberasa faktor, yaitu :

  1. Perasaan diterima atau disukai teman-teman ;
  2. Tarikan Kelompok ;
  3. Teknik pengelompokan oleh guru ;
  4. Partisipasi / keterlibatan dalam kelompok ;
  5. Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya ;
  6. Struktur dan sifat-sifat kelompok.

Sedangkan sifat-sifat kelompok itu adalah :

  1. Suatu Multi Personalia dengan tingkat keakraban tertentu ;
  2. Suatu Sistem Interaksi ;
  3. Suatu Organisasi atau Struktur ;
  4. Suatu motif tertentu dan tujuan bersama ;
  5. Suatu kekuatan atau standart perilaku tertentu ;
  6. Pola perilaku yang dapat di observasi yang disebut kepribadian.

C. Pendekatan Bervariasi

Dalam mengajar, guru hanya menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam waktu yang relatif lama. Metode yang hanya satu-satunya dipergunakan tidak dapat diperankan, karena memang gangguan itu terpangkal dari kelemahan metode tersebut. Karena itu, dalam mengajar kebanyakan guru menggunakan beberapa metode dan jarang sekali menggunakan satu metode.

Permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula.

D. Pendekatan Edukatif

Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, norma sosial dan norma agama.

Semua pendekatan yang dilakukan guru harus bernilai edukatif, dengan tujuan mendidik. Berdasarkan kurikulum atau Garis-garis Besar Program Pengajaran ( GBPP ). Pendidikan Agama Islam SLTP Tahun 1994 disebutkan lima macam pendekatan untuk pendidikan agam islam, yaitu pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, dan pendekatan fungsional. Kelima macam pendekatan ini diajukan karena, pendidikan agama islam disekolah umum dilaksanakan melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang satu sama lainnya saling menunjang dan saling melengkapi.

E. Pendekatan Pengalaman

Experience is the best teacher, pengalaman adalah guru yang baik. Pengalaman adalah guru bisu yang tidak pernah marah. Pengalaman adalah guru yang tanpa jiwa, namun selaludicari oleh siapapun juga. Belajar dari pengalaman adalah lebih baik daripada sekedar bicara, dan tidak pernah berbuat sama sekali. Belajar adalah kenyataan yang ditujukan dengan kegiatan fisik. Karena itu, the proses of learning is doing, reacting, undergoing, experiencing. The products of learning are all achieved by the learner through his own activity. ( H. C. Witherington & W. H. Burton, 1986;57 ).

Untuk pendidikan islam, pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Metode mengajarnya adalah dengan pemberian tugas ( resitasi ) dan tanya jawab tentang pengalaman keagamaan islam.

F. Pendekatan Pembiasaan

Pembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan menjadi milik anak dikemudian hari. Salah satu cara memberikan haknya dibidang pendidikan  adalah dengan cara memberikan kebiasaan yang baik dalam kehidupan mereka. Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah dan kadang-kadang perlu waktu yang lama. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar pula untuk mengubahnya.

Pendidikan Agama Islam sangat penting dalam hal ini, karena dengan pendidikan pembiasaan itulah diharapkan siswa senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. Pendekatan pembiasaan dimaksudkan disini, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamannya, baik secara individual, maupun kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Metode mengajarnya adalah metode latihan (drill), pelaksanaan tugas, demonstrasi dan pengalaman langsung dilapangan.

G. Pendekatan Emosional

Emosi adalah gelaja kejiwaan yang ada didalam diri seseorang. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Seseorang yang mempunyai perasaan pasti dapat merasakan sesuatu , baik perasaan jasmani maupun perasaan rohani. Perasaan menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (1991;36) Sebagai fungsi jiwa untuk dapat mempertimbangkan dan mengukur sesuatu menurut “rasa senang dan tidak senang” mempunyai sifat-sifat senang dan sedih / tidak senang, kuat dan lemah, lama dan sebentar, relatif dan tidak berdiri sendiri sebagai pernyataan jiwa.

Dalam kehidupan sosial keagamaan, perasaan seiman dan seagama mengikat perasaan seseorang sebagai orang yang beragama. Karena menyadari akan suatu kewajiban yang dibebankan dipundaknya oleh hukum agama, maka dengan kesadaran dia meyakini, memahami dan mengahayati ajaran dengan bertambahnya usia seseorang, dari sejak anak hingga dewasa.

Emosi mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Itulah sebabnya, pendekatan emosional yang berdasarkan pendidikan dan pengajaran, terutama untuk pendidikan agama islam. Pendekatan emosional adalah usaha untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam menyakini, memahami dan menghayati ajaran agamanya, agar bertambah kuat keyakinannya akan kebesaran Allah SWT dan kebenaran ajaran agamanya. Metode mengajara adalah Ceramah, Bercerita dan Sosiodrama.

H. Pendekatan Rasional

Manusia adalah mahkluk yang sempurna diciptakan karena mempunyai akal untuk berfikir sedangkan mahluk lainnya tidak mampu berpikir. Dengan kekuatan akalnya dapat membedakan mana perbuatan baik dan mana buruk, mana kebenaran dan mana kedustaan dari sesuatu ajaran atau perbuatan. Akal dijadikan alat untuk membuktikan ajaran-ajaran agama.

Usaha yang terpenting bagi guru adalah bagaimana memberikan peranan kepada akal (rasio) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama, termasuk mencoba memahami hikmah dan fungsi ajaran agama. Keampuhan akal (rasio) akhirnya dijadikan pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran disekolah. Metode mengajar adalah ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, latihan dan pemberian tugas.

I. Pendekatan Fungsional

Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah, bukan hanya sekedar pengisi otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik secara individu maupun sebagai mahkluk sosial. Anak memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan sehari-hari, bahkan dapat membentuk kepribadian anak. Nilai ilmu sudah fungsional didalam diri anak karena anak mendayagunakan suatu ilmu yang didapatnya di sekolah.

Pendekatan fungsional yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat menjebatani harapan tersebut. Metode mengajar adalah latihan, tugas, ceramah, tanya jawab dan demonstrasi.

J. Pendekatan Keagamaan

Pendidikan dan pelajaran disekolah terdiri dari banyak mata pelajaran (mapel). Semua mata pelajaran itu pada umumnya dapat dibagi menjadi mapel umum dan mapel agama. Khusus untuk mapel umum, sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ilmu itu tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip kolerasi dan sosialisasi, guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mapel umum.

Pendekatan keagamaan dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa didalam diri siswa, yang pada akhirnya nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami, dihayati dan diamalkan secara hayat siswa dikandung badan.

K. Pendekatan Kebermaknaan

Bahasa adalah alat untuk menyampaikan dan memahami gagasan pikiran, pendapat, dan perasaan, secara lisan maupun tulisan. Bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama di indonesia yang dianggap penting untuk tujuan penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya dan pembinaan hubungan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Dalam rangka penguasaan bahasa inggris tidak bisa mengabaikan masalah pendekatan yang harus digunakan dalam proses belajar mengajar. Kegagalan penguasaan bahasa inggris oleh siswa, salah satu sebabnya adalah kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru selain faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas, dan lingkungan serta kompetensi guru itu sendiri. Kegagalan pengajaran tersebut tentu saja tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena akan menjadi masalah bagi siswa dalam setiap jenjang pendidikan yang dimasukinya. Karenanya perlu dipecahkan. Salah satu alternatif ke arah pemecahan masalah tersebut diajukanlah pendekatan baru, yaitu pendekatan kebermaknaan.

PENUTUP

Akhirnya, perlu diikhtisarkan bahwa ada berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pendidikan dana pengajaran, yaitu Pendekatan Individual, Pendekatan Kelompok, Pendekatan Bervariasi, Pendekatan Edukatif, Pendekatan Pengalaman, Pendekatan Pembiasaan, Pendekatan Emosional, Pendekatan rasional, Pendekatan Fungsional, Pendekatan Keagamaan dan Pendekatan Kebermaknaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s